Selasa, 29 Agustus 2017

Sekolahku Masa Depanku

           SEKOLAHKU
MASA DEPANKU
          

             Di atas awan yang putih, terlihat secara jelas pemandangan sekolah yang menurut kami itu adalah sekolahku masa depanku. Kurang lebih 5 Km dari pusat kota, jarak yang terasa tidak jauh. Sekolahku masa depanku. Bukan karena bertembokkan kerai (setengah kerai setengah tembok), bukan pula beralaskan karpet yang telah usang, juga bukan pula bangku kecil tempat biasa kami menulis pelajaran sekolah. Namun itu semua adalah tempat kami menimba ilmu, menjadi seorang yang bermanfaat untuk yang lain, belajar berakhlak mulia, dan banyak hal yang telah kami pelajari disana.
           Berawal dari ketidakmauan kami memberatkan orang tua (tutur salahsatu dari kami kepada seorang guru), maka azam dalam hati yang tetap kuat untuk terus menuntut ilmu di sekolah. Jujur sekolah kami GRATIS, tidak ingin membebani anak didiknya. Ketidakmampuan ekonomi mengalah kekuatan tekad yang membaja. Apapun alasannya kami harus tetap sekolah. Banyak jalan menuju Roma, pepatah itulah yang membuat kami tetap bertahan. Bertahan dari terpaan hujan dan angin, keterbatasan buku pelajaran, sarana dan prasarana yang kurang mendukung, bahkan terkadang hidung ini harus mampu menahan bau sampah yang keberadaannya tepat di depan sekolah kami.
           Masa depan cerah diraih bukan dengan hanya bermalas-malas ria, bersendau gurau yang berlebihan. Namun harus diupayakan dengan kerja keras, berjuang, dan diiringi dengan lantunan doa yang takkan ada lelahnya dibacakan. Rintangan dan ujian sudah pasti ada. Dan itulah sunahtullahnNya. Bagaimana kami sabar dalam menjalankannya. Apapun itu, kami tetap masih tertawa bahagia
           Kali ini, kami bukan menceritakan tentang sekolah kami yang apa ala kadarnya, namun menceritakan bagaimana melaluinya. Guru yang mampu mengajari kami arti kehidupan, bersikap sopan santun, jujur, dan harus menjadi inspirasi bagi yang lainnya. Sahabat yang mampu membagikan kesedihan dan kebahagiaan. Keluarga kami kedua adalah semua orang yang ada di sekolah ini, setelah dirumah. Sikap keras dan kenakalan masa muda kami bukan untuk ketidak inginan kami belajar, tapi inilah kami apa adanya. Orangtua kamilah yang membesarkan kami seperti ini.
           Ingatkan kami hari ini! Agar kami menjadi “Orang Sungguhan”. Kami yang terus berusaha berjuang bersekolah -memperkaya ilmu pengetahuan, dan tetap akan menjadi muridmu yang berbakti. Masa depan yang gemilang tepat didepan mata. Maka akan segera kami raih, dan kami teguk kebahagiannya.

Repost by: Cahaya Dhuafa